1.
Genre Musik Rock
|
Rock and Roll
|
Ciri khas rock and roll adalah pada ketukan (beat) yang biasanya dipadu dengan lirik. Rock and roll menggunakan beat yang didasarkan salah satu ritme musik blues yang disebut boogie woogie ditambah aksen backbeat yang hampir selalu diisi pukulan snare drum. Versi klasik dari rock and roll dimainkan dengan satu atau dua gitar listrik, gitar bas listrik, dan drum set. Perangkat kibor sering dimainkan sebagai alat musik tambahan. Bila dimainkan dengan dua gitar listrik, gitar listrik yang dimainkan untuk memberi melodi disebut guitar lead, sedangkan gitar untuk memberi ritme dan harmoni disebut gitar ritme. Saksofon sering dijadikan instrumen melodi pada gaya rock and roll awal tahun 1950-an, tapi digantikan perannya oleh gitar elektrik di pertengahan tahun 1950-an. Di akhir tahun 1940-an, bentuk awal rock and roll bahkan memakai piano sebagai instrumen melodi. Salah satu cikal bakal rock and roll adalah musik boogie woogie dengan piano sebagai melodi, seperti permainan musik berbagai kelompok big band yang mendominasi dunia musik Amerika dekade 1940-an. Kepopuleran rock and roll secara massal dan mendunia ternyata menimbulkan dampak sosial yang tidak terduga. Rock and roll bukan saja memengaruhi gaya bermusik, tapi sekaligus gaya hidup, gaya berpakaian, dan bahasa. Selain sukses di dunia musik, bintang-bintang di periode awal rock and roll juga sukses di dunia film dan televisi. Elvis Presley, misalnya merupakan bintang rock and roll yang sukses sebagai bintang film dan televisi.
Istilah slang "rock and roll" sering dipakai orang berkulit hitam untuk menyebut "hubungan seks". Penyanyi wanita Trixie Smith pertama kali menggunakan istilah "rock and roll" dalam lagu "My Baby Rocks Me With One Steady Roll" yang diedarkan tahun 1922.
Asal-usul
Rock and roll mulai muncul sebagai
gaya baru dalam bermusik di Amerika pada
akhir tahun 1940-an sebagai percabangan musik country dan western
produk budaya orang Amerika berkulit putih, dan musik rhythm and blues
(R&B) yang merupakan produk budaya orang Afrika-Amerika.
Unsur-unsur rock and roll sebenarnya sudah bisa didengar pada lagu-lagu country
tahun 1930-an dan lagu-lagu blues dari tahun 1920-an. Walaupun demikian, genre musik yang
baru ini tidak disebut "rock and roll" hingga di tahun 1950-an.
Bentuk awal rock and roll adalah rockabilly
yang memadukan unsur-unsur R&B, blues, jazz, dan dipengaruhi musik
folk Appalachia serta musik gospel.
Bila ditelusur lebih jauh lagi, cikal bakal musik rock and roll bisa ditemukan
di daerah slum Five Points, kota New York pada pertengahan abad ke-19. Di daerah tersebut untuk pertama kalinya terjadi
percampuran antara tari Afrika yang ritmis dengan musik Eropa, khususnya musik
untuk tari rakyat jig asal Irlandia yang sangat melodius.
Penyanyi gospel berkulit hitam dari
daerah Selatan Amerika Serikat menggunakan istilah "rocking"
untuk menyebut sesuatu yang mirip dengan proses pengangkatan yang akan dialami
orang yang percaya di akhir zaman. Istilah "rocking" pada
akhir dekade 1940-an menjadi bermakna ganda, "menari" dan juga
"seks", seperti pada lirik lagu "Good
Rocking Tonight" yang dibawakan pemusik blues Roy Brown.
Lagu seperti ini biasanya hanya diputar stasiun radio yang menyiarkan musik
orang Afrika-Amerika dan jarang didengar kalangan orang
berkulit putih.
Pada dekade 1920-an dan 1930-an,
orang kulit putih di Amerika banyak menyenangi pemusik berkulit putih yang
memainkan musik jazz and blues milik orang Afrika-Amerika. Musik yang sama
namun bila dimainkan pemusik berkulit hitam justru sering tidak mendapat
sambutan. Pemusik R&B berkulit hitam yang digemari orang berkulit putih
cuma sedikit, di antaranya yang menonjol adalah Louis Jordan,
Mills
Brothers, dan The
Ink Spots. Semasa lagu-lagu baru belum banyak
diciptakan, lagu hit di awal era rock and roll banyak merupakan rekaman ulang
dari lagu R&B atau blues yang sudah dikenal sebelumnya. Genre musik blues
nantinya terus memberi inspirasi bagi para pemusik rock. Pemusik blues bergaya Delta
blues seperti Robert
Johnson dan Skip
James menjadi inspirasi bagi pemusik rock
Inggris The Yardbirds, Cream, dan Led Zeppelin.
Di tahun 1951, Alan
Freed, seorang DJ di Cleveland, Ohio
mulai memutar jenis musik yang diperkirakannya bisa disukai pendengar dari
berbagai kalangan dan ras. Alan Freed disebut-sebut sebagai orang yang pertama
kali menggunakan istilah "rock and roll" untuk musik R&B yang
gembira dan energetik. Sewaktu bekerja sebagai DJ di stasiun radio WJW di Cleveland, Alan Freed mengadakan konser rock and roll
yang pertama. Konser dilangsungkan 21 Maret 1952 dan diberi nama "The Moondog Coronation Ball". Acara dihadiri penonton yang sebagian besar orang
Afrika-Amerika, tapi harus diakhiri sewaktu baru saja mulai karena penonton
yang luar biasa padat. Setelah konser yang pertama sukses, Alan Freed terus
mengadakan berbagai pertunjukan rock and roll yang banyak ditonton orang
berkulit hitam dan berkulit putih. Pertunjukan seperti ini membantu penyebaran
gaya musik Afrika-Amerika di berbagai kalangan.
Pengamat musik sering berdebat
mengenai pemusik yang berhak dicatat sebagai pembuat rekaman rock and roll yang
pertama. Sister
Rosetta Tharpe sudah merekam musik yang penuh
dengan teriakan dan hentakan di tahun 1930-an dan 1940-an. Gaya bermusiknya
mirip dengan ciri khas rock and roll di pertengahan tahun 1950-an. Sister
Rosetta sudah menduduki tangga lagu pop di tahun 1938 dengan lagu-lagu berirama
gospel seperti "This Train" dan "Rock Me", serta dilanjutkan
di tahun 1940-an dengan "Strange Things Happenin Every Day", "Up
Above My Head", dan "Down By The Riverside". Pemusik lain yang
menyanyikan lagu gospel/blues dengan iringan piano boogie adalah Big Joe Turner
dengan "Roll 'em Pete". Lagu ini direkamnya di tahun 1939, tapi hampir-hampir
tidak bisa dibedakan dengan gaya rock and roll tahun 1950-an. Artis yang
merilis rekaman mirip rock and roll pada dekade 1940-an dan awal tahun 1950-an,
di antaranya: Roy
Brown ("Good
Rocking Tonight", tahun 1947), Paul Bascomb
("Rock and Roll", 1947), Fats Domino
("The
Fat Man," 1949), Big
Joe Turner ("Honey, Hush", 1953, dan
"Shake, Rattle and Roll", 1954), serta Les
Paul and Mary Ford ("How
High the Moon," 1951).
Artikel majalah Rolling Stone
terbitan tahun 2004 menyatakan singel pertama Elvis Presley produksi Sun
Records yang berjudul "That's All Right (Mama)"
adalah rekaman rock and roll yang pertama.[1].
Sementara itu, lagu hit "Bo Diddley" dan "I'm A Man" oleh Bo
Diddley dikatakan sebagai perintis beat
baru yang menghentak, serta memperkenalkan cara bermain gitar yang unik dan
menjadi inspirasi bagi pemusik lain.
Lagu "Rock
Around the Clock" oleh Bill Haley
adalah lagu rock and roll pertama yang menduduki puncak tangga lagu majalah Billboard
untuk angka penjualan dan jumlah pemutaran lagu (airplay) di radio. Bill
Haley membuka pintu bagi gelombang baru kebudayaan pop yang disebut rock and
roll. Pemusik-pemusik lain yang menciptakan lagu hit di periode awal rock and
roll adalah Chuck Berry, Little
Richard, dan kelompok vokal bergaya doo-wop. Sementara itu, di dunia musik pop berjaya para penyanyi
yang sudah menjadi bintang sejak dekade sebelumnya, misalnya Eddie Fisher,
Perry
Como, dan Patti Page.
Di periode awal rock and roll, mereka mulai menemui kesulitan menempatkan
lagu-lagu pop di tangga lagu akibat terhalang lagu rock and roll.
Musik rock and roll dan boogie
woogie keduanya menggunakan satu bar (birama) delapan ketuk dan
sama-sama memainkan progresi kord blues
12-bar. Walaupun demikian, rock and roll
lebih menekankan pada backbeat dibandingkan boogie woogie. Little
Richard memadukan piano boogie-woogie dengan backbeat yang berat dan
menyanyikannya dengan suara berteriak akibat terpengaruh gaya menyanyi musik
gospel. Pemusik seperti Ray Charles
dan Smokey
Robinson memuji gaya bernyanyi Little
Richard yang dikatakannya membawa warna baru dalam musik. James Brown
memuji Little Richard sebagai pemusik yang pertama kali memasukkan unsur musik funk ke dalam beat rock and roll. Elvis Presley turut menyebut
Little Richard sebagai sumber inspirasi. Walaupun demikian, perpaduan
unsur-unsur musik seperti yang dilakukan Little Richard bukan hal yang baru.
Sebelum Little Richard, sudah banyak sekali pemusik yang melakukan hal yang
sama, misalnya Esquerita, Cecil
Gant, Amos
Milburn, Piano
Red, dan Harry
Gibson. Gaya liar Little Richard dalam
berteriak dan menyerukan "wuuu wuuu," sebenarnya sudah digunakan Marion
Williams dan banyak lagi penyanyi gospel
wanita di tahun 1940-an. Roy
Brown juga sudah meneriakan
"yoooooww" jauh sebelum Richard melakukannya dalam lagu "Ain't
No Rockin no More".
Periode
awal rock and roll Amerika Utara (1953-1963)
Rock and roll muncul di saat
ketegangan rasial di Amerika Serikat timbul ke permukaan. Orang Afrika-Amerika
mulai memprotes segregasi
rasial di sekolah dan fasilitas umum. Pada
waktu itu, rock and roll yang memadukan unsur musik orang kulit putih dan unsur
musik Afrika-Amerika juga tidak luput dari kecaman. Di tahun 1954, Mahkamah Agung AS menolak doktrin separate
but equal (terpisah tapi sejajar) dan sejak
itu dimulailah perjuangan persamaan hak orang kulit berwarna di Amerika
Serikat.
Louis Jordan and His Tympany Five menyebut istilah "rock and
roll" dalam versi lagu "Tamburitza Boogie" yang direkam 18 Agustus
1950 di kota
New York. Sebelum Louis Jordan, pemusik lain juga sudah menggunakan istilah
"rock and roll" pada rekaman mereka, misalnya "Rock and Roll
Blues" yang direkam Erline Harris. Di tahun 1948, Wild Bill Moore sudah
merekam lagu berjudul "Rock And Roll", begitu pula Paul Bascomb yang
menggunakan judul yang sama di tahun 1947 untuk materi lagu berbeda. Di tahun
1922, Trixie
Smith bahkan sudah menulis lagu berjudul
"My Man Rocks Me with One Steady Roll." Di tahun 1916, kata "rock and roll" sudah disebut-sebut dalam
lagu "The Camp Meeting Jubilee" yang direkam artis-artis yang
bernaung di bawah label rekaman Little
Wonder. Lirik lagu yang dinyanyikan para
penyanyi tersebut berbunyi, "We've been rocking and rolling in your
arms, in the arms of Moses".
Seorang DJ bernama Alan
Freed (alias Moondog) mengadakan konser
rock and roll yang pertama pada 21 Maret 1952 di Cleveland. Konser yang diberi nama "The Moondog Coronation Ball"
dihadiri penonton dan pemusik tanpa mengenal perbedaan warna kulit. Konser
terpaksa dibubarkan setelah baru satu lagu dibawakan di atas panggung karena
situasi tidak terkendali. Ribuan penggemar berusaha mendesak masuk ke arena
yang tiketnya sudah terjual habis. Konser ini membuka mata industri rekaman
akan adanya minat orang kulit putih terhadap musik orang kulit hitam, dan minat
ini tidak terbatas pada genre musik rhythm and blues
saja. Rintangan ras dan prasangka yang masih kuat di AS ternyata tidak mampu
mengatasi kekuatan ekonomi
pasar. Rock and roll sukses besar di
Amerika Serikat, gelombangnya terbawa Lautan Atlantik hingga ke Inggris dan
melahirkan gerakan musik British
Invasion pada tahun 1964.
Sejak dilahirkan pada awal dekade
1950-an hingga awal tahun 1960-an, musik rock and roll ikut melahirkan dansa
gaya baru. Anak-anak muda merasakan ritme backbeat rock and roll yang
tidak monoton sangat cocok untuk menghidupkan kembali dansa gaya jitterbug yang sempat populer di era big band. Demam pesta
dansa rumahan dan dansa sock-hops di ruangan senam melanda remaja Amerika. Anak belasan tahun
dengan setia mengikuti acara musik American Bandstand yang dibawakan Dick Clark
di televisi agar bisa mengikuti gerakan dansa dan gaya busana paling mutakhir.
Sejak pertengahan tahun 1960-an, istilah "rock and roll"
menjadi cukup disebut "rock". Sejak itu pula secara berturut-turut
muncul berbagai genre dansa, mulai dari twist, funk, disco, hingga house dan techno.
Rockabilly
Pada tahun 1954, Elvis Presley
merekam lagu hit "That's All Right (Mama)" di studio Sun milik Sam
Phillips di Memphis. Elvis memadukan unsur-unsur musik rock dan country-western
yang disebut rockabilly. Ciri khas rockabilly adalah gaya vokal seperti orang
tersedak bernyanyi, betotan bas, dan permainan gitar bagaikan sedang
kejang-kejang. Elvis adalah musisi rock pertama yang meraih status superstar.
Elvis Presley dalam "Jailhouse
Rock" (1957)
Pada tahun berikutnya, Bill Haley
& His Comets dengan lagu hit "Rock
Around the Clock" bagaikan mempercepat tempo
penyebarluasan musik rock and roll. Lagu ini menjadi salah satu lagu hit
terbesar dalam sejarah musik. Anak-anak belasan tahun secara histeris menyerbu
konser-konser Bill Haley and the Comets hingga terjadi kerusuhan di beberapa
kota. Lagu "Rock Around the Clock" bahkan dijadikan lagu pembuka di
film Blackboard
Jungle yang menandai awal kerjasama saling
menguntungkan antara dunia film dan musik rock and roll. Setelah film dirilis
tahun 1955, rekaman "Rock Around the Clock" ikut laku keras, padahal
penjualan lagu ini biasa-biasa saja ketika rekaman baru diedarkan pada tahun
1954.
Lagu "Rock Around the
Clock" merupakan lagu rock and roll pertama yang mencapai puncak tangga
lagu di Amerika Serikat untuk beberapa minggu, sekaligus pembuka jalan bagi
lagu-lagu lain bergenre rock and roll. Di negara-negara seperti Britania, Australia,
dan Jerman, lagu ini
mendapat sambutan luar biasa di kalangan anak-anak muda. Di Australia,
perusahaan rekaman Festival
Records mengedarkan singel "Rock
Around the Clock" dan menjadi rekaman paling laku di Australia pada waktu
itu. Pada tahun 1957, Jerry
Lee Lewis dan Buddy Holly
menjadi pemusik rock pertama yang melakukan tur ke Australia. Peristiwa ini
menandai ekspansi rock and roll sebagai fenomena global. Di tahun yang sama,
Bill Haley ikut melakukan tur ke Eropa dan memperkenalkan rock 'n' roll di
benua Eropa.
Rekaman ulang
Sepanjang akhir tahun 1940-an dan awal 1950-an, dunia
musik R&B diwarnai beat yang lebih kuat dan gaya yang lebih liar.
Gaya bermusik seperti ini diwakili pemusik seperti Fats Domino
dan Johnny
Otis. Tempo dipercepat dan jumlah
pukulan pada backbeat ditambah hingga akhirnya musik mereka menjadi
populer di rumah minum yang disebut juke
joint. Sebelum adanya Alan Freed dan DJ
yang sealiran, musik orang kulit hitam masih tabu bagi stasiun radio orang
kulit putih. Walaupun demikian, pemusik dan produser rekaman yang cerdas mulai
menyadari potensi musik rock and roll sebagai lahan bisnis yang menguntungkan,
dan berlomba-lomba mengeluarkan lagu orang kulit hitam yang dimainkan kulit
putih. Di lain pihak, pemusik kulit putih menjadi jatuh cinta pada jenis musik
ini dan sedapat mungkin memainkannya dalam setiap kesempatan. Lagu-lagu hit di
periode awal Elvis, seperti "That's All Right", "Baby, Let's
Play House", "Lawdy Miss Clawdy", dan "Hound Dog"
adalah lagu-lagu yang pernah dibawakan orang berkulit hitam.
Pada masa itu, pemusik berkulit
putih beramai-ramai merekam ulang lagu-lagu yang pernah dibawakan musisi
berkulit hitam. Peluang melakukan rekaman ulang (cover version) terbuka
lebar dengan adanya pasal tambahan Wajib
Lisensi (compulsory license) dalam Undang-undang Hak Cipta Amerika Serikat. Menurut ketentuan yang terus berlaku hingga sekarang,
rekaman yang pernah dibawakan orang lain boleh direkam ulang dan dijual bila
memenuhi syarat-syarat tertulis. Salah seorang pemusik dengan rekaman ulang
yang sukses adalah Wynonie
Harris dengan "Good Rocking
Tonight". Lagu ini sebelumnya pernah dibawakan Roy
Brown dengan gaya jump
blues, tapi diubah menjadi gaya rock.
Pada saat bersamaan, penyanyi pop berkulit putih juga ikut-ikutan membawakan
lagu-lagu R&B milik penyanyi berkulit hitam. Sebaliknya, penyanyi kulit
hitam juga merekam ulang lagu milik penyanyi kulit putih. Wynonie Harris
membawakan lagu penyanyi kulit putih, Louis
Prima berjudul "Oh Babe" di
tahun 1950. Amos
Milburn ikut membawakan "Birmingham
Bounce" dari Hardrock
Gunter yang disebut-sebut sebagai salah
satu rekaman rock and roll pertama dari artis berkulit putih.
Pemusik kulit hitam turut
diuntungkan dengan pemusik kulit putih yang memainkan lagu-lagu mereka.
Lagu-lagu dari pemusik kulit hitam menjadi terkenal, walaupun ada juga pihak
yang bersuara sumbang akibat berkurangnya pendapatan atau mempermasalahkan
keaslian lagu-lagu tersebut. Pat Boone
merupakan salah satu penyanyi yang pernah dikritik karena pernah merekam
lagu-lagu Little
Richard dengan gaya datar-datar saja.
Setelah dimainkan pemusik berkulit putih, lagu-lagu asli dari pemusik kulit
hitam ikut menjadi populer, dan mulai diputar di radio-radio. Little Richard
sempat menyapa Pat Boone yang hadir sebagai penonton dan memperkenalkannya
sebagai "laki-laki yang membuatku jadi jutawan."
Versi rekaman ulang tidak selalu merupakan
imitasi mentah-mentah dari versi pemusik kulit hitam. Bill Haley mengubah lagu
"Shake, Rattle and Roll" menjadi lagu yang energetik dan cocok
dipakai berdansa anak muda. Lagu aslinya yang dibawakan Big Joe Turner justru
bercerita tentang cinta orang dewasa dengan nada rasisme dan humor. Selain itu,
gaya vokal Etta James yang tegar dan sarkastik dalam "Roll With Me,
Henry" diubah Georgia Gibbs menjadi riang dan penuh semangat. Judulnya pun
diganti menjadi "Dance With Me, Henry" agar lebih cocok bagi
pendengar yang tidak tahu lagu ini dulunya merupakan lagu balasan untuk
"Work With Me, Annie" oleh Hank
Ballard
.
Idola
remaja
Buddy Holly, Ritchie
Valens, dan the
Big Bopper (J.P.
Richardson) adalah perintis bintang rock and
roll idola remaja yang terus dikenang hingga kini. Ketiganya tewas pada dini
hari 3 Februari
1959 dalam
kecelakaan pesawat yang sedang menerbangkan mereka ke Fargo, North Dakota. Pesawat Beechcraft Bonanza yang dicarter Buddy Holly
mengalami kecelakaan sesaat setelah lepas landas dari Mason
City, Iowa. Kecelakaan ini terus dikenang orang setelah di tahun 1971 diangkat Don McLean
menjadi lagu ballad "American Pie". Begitu populernya lagu ini hingga 3 Februari dikenal
sebagai "The Day the Music Died" ("Hari Matinya Musik"). Eddie
Cochran ikut menyebut peristiwa ini dalam
lagu "Three Stars" yang secara khusus menyebut Buddy Holly, the Big
Bopper, dan Valens.
Akhir dari era Buddy Holly,
Ritchie
Valens, dan The
Big Bopper ditandai dengan kemunculan penyanyi
dan grup musik idola yang disukai remaja, termasuk di antaranya: The Beatles,
Paul Anka,
Frankie Avalon, dan selanjutnya The
Monkees.
2.
Pop
Musik Populer merupakan jenis-jenis musik yang saat ini
digemari oleh masyarakat awam. Musik jenis ini merupakan musik yang sesuai
dengan keadaan jaman saat ini, sehingga sesuai di telinga kebanyakan orang.
Beberapa genre musik yang termasuk Musik Populer adalah Pop, Funk, Jazz, Blues,
Rock, Gospel, Underground, dan lain-lain. Genre musik ini dapat ditemui di
hampir seluruh belahan dunia oleh karena sifat musiknya yang hampir bisa
diterima semua orang.
Dari
sekian banyak jenis aliran musik yang telah “disediakan” oleh para musisi,
musik pop boleh jadi menjadi jenis aliran musik yang paling banyak memiliki
peminat. Musik pop memiliki ciri khas berupa musiknya yang easy listening dan
memiliki lirik yang komersial.
Selain
sederhana dalam lirik dan musik yang cenderung bertemakan hal-hal komersial,
keistimewaan lain yang dimiliki oleh musik pop adalah penggunaan berbagai
inovasi teknologi untuk menunjang musiknya. Misalnya proses mixing yang dapat
menghasilkan nada-nada yang enak didengar dan lebih bervariasi. Hal-hal itulah
yang kemudian menjadi alasan mengapa musik pop banyak digemari, terutama oleh
para remaja.
Musik
pop sebenarnya salah satu genre musik yang merupakan bagian dari musik populer.
Musik populer sendiri adalah musik yang tidak terbatas pada satu jenis aliran
tertentu. Kriteria utamanya adalah bagaimana jenis aliran musik itu dapat
populer dan digemari. Itulah sebabnya mengapa musik pop sering diidentikkan
dengan musik populer. Padahal musik pop dan musik populer itu adalah dua hal
yang berbeda.
Seperti
halnya musik-musik lain yang saling memengaruhi, musik pop pun demikian. Musik
pop banyak dipengaruhi oleh “anggota” dari musik populer lainnya. Seperti,
gabungan antara genre musik rock, jazz, blues, reggae, Rhythm and blues, rock
and roll, tradisional dan lain-lain.
Pada
tahun 60an, beberapa seniman termasuk Frankie Avalon, Bob Dylan, Marvin Gaye,
Sonny dan Cher, Aretha Franklin, dan The Beatles. Mencampurkan berbagai elemen
yang dikombinasikan untuk menciptakan easy listening musik pop. Tahun 70-an
melihat disko dan rock bergabung dalam dekade ini, yang mencakup beberapa
favorit seperti Earth Wind & Fire, The Jackson Five, Rod Steward, ABBA,
Donna Summer, Elton John, dan Billy Joel.
Musik
pop terus tumbuh dengan cara yang berbeda dengan seniman yang berbeda di setiap
dekadenya dan menjadi salah satu genre yang paling dicari sampai saat ini.
Tentu saja tahun 80an pun tidak berbeda, dekade ini menghasilkan Raja dan Ratu
Pop, yang dikenal sebagai Michael Jackson dan Madonna.
Selama
tahun 90-an, pop mulai menggabungkan unsur-unsur genre R & B, yang
menghasilkan bintang-bintang seperti TLC, Celine Dion, Mariah Carey, dan
Brandy. Namun, pengaruh rock masih tetap dengan vokalis seperti Jewel, Nirvana,
Eric Clapton, Tori Amos dan Madonna pernah fleksibel. Tentu saja kita tidak
bisa melupakan favortes 90an seperti NSYNC, Ricky Martin, New Kids on The
Block, Willa Ford, dan Britney Spears. Dan dekade saat ini telah melihat musik
pop dikombinasikan dengan banyak unsur, yang menghasilkan skor bakat baru.
Selama
bertahun-tahun musik pop telah berubah dalam banyak sisi, bagaimanapun, satu
hal tetap sama, tetapi masih merupakan genre musik yang paling populer sampai
saat ini, suatu fakta yang tetap kokoh dan benar selama beberapa dekade. (Yudi
Kinsi - MMI 2011)
3.
Clasical
Musik klasik biasanya merujuk pada musik klasik
Eropa, tapi kadang juga pada musik klasik Persia, India, dan lain-lain. Musik
klasik Eropa sendiri terdiri dari beberapa periode, misalnya barok, klasik, dan
romantik.
Musik klasik merupakan istilah luas yang biasanya
mengacu pada musik yang dibuat di atau berakar dari tradisi kesenian Barat,
musik kristiani, dan musik orkestra, mencakup periode dari sekitar abad ke-9
hingga abad ke-21.[1]
Musik klasik Eropa dibedakan dari bentuk musik
non-Eropa dan musik populer terutama oleh sistem notasi musiknya, yang sudah
digunakan sejak sekitar abad ke-16.[2] Notasi musik barat digunakan oleh
komponis untuk memberi petunjuk kepada pembawa musik mengenai tinggi nada, kecepatan,
metrum, ritme individual, dan pembawaan tepat suatu karya musik. Hal ini
membatasi adanya praktek-praktek seperti improvisasi dan ornamentasi ad libitum
yang sering didengar pada musik non-Eropa (bandingkan dengan musik klasik India
dan musik tradisional Jepang) maupun musik populer.
Dahulu musik klasik di Eropa terutama digunakan
untuk keperluan lagu di Gereja ataupun lagu untuk pengiringan Raja. Sejalan
dengan perkembangan, mulai juga bermunculan musik klasik yang digunakan untuk
keperluan lain, seperti misalnya musik klasik yang menggambarkan visual secara
audio, contohnya lagu Cat and Mouse yang menggambarkan kucing mengejar tikus.
4.
Orcestra
Orkestra adalah kelompok musisi yang
memainkan alat musik bersama. Mereka biasanya memainkan musik
klasik. Orkestra yang besar kadang-kadang disebut sebagai "orkestra
simponi". Orkestra simponi memiliki sekitar 100 pemain, sementara orkestra
yang kecil hanya memiliki 30 atau 40 pemain. Jumlah pemain musik bergantung
pada musik yang mereka mainkan dan besarnya tempat mereka bermain.
5.
Metal
Death metal adalah sebuah sub-genre dari musik heavy metal
yang berkembang dari thrash metal pada awal 1980-an. Beberapa
ciri khasnya adalah lirik lagu yang bertemakan kekerasan
atau kematian, ritme
gitar rendah (downtuned rhythm guitars), perkusi yang cepat, dan
intensitas dinamis. Vokal biasanya dinyanyikan dengan gerutuan (death grunt)
atau geraman maut (death growl). Teknik menyanyi seperti ini juga sering disebut "Cookie Monster
vocals".
Beberapa pelopor genre ini
adalah Venom dengan albumnya Welcome to Hell (1981) dan Death dengan albumnya Scream Bloody Gore (1987). Death metal kemudian dikembangkan lebih lanjut oleh
band-band seperti Cannibal Corpse, Morbid Angel, Entombed, God
Macabre, Carnage, dan Grave.
Kemudian era 2000'an, Death Metal
berkembang sangat pesat. Banyak band-band jebolan aliran death metal menjadi
pembaharu dalam musik metal. Band-band tersebut antara lain Inhuman
Dissiliency, Disavowed, Viraemia, Hiroshima
Will Burn, Amon
Amarth, Inveracity, The
Berzeker, Dying Fetus,
Condemned, dan masih banyak lagi.
Di Indonesia, genre ini diawali
pergerakan dan perkembangan-nya di tahun 1990-an dengan band thrash metal
Rotor di
Jakarta. Pergerakkan utama Death Metal Indonesia berasal dari munculnya
inisiatif oleh band Grindcore asal Malang, Rotten Corpse, yang menggarap untuk
pertama kalinya (yang diketahui) musik Death Metal. Kemunculan dan permainan
Rotten Corpse akan Death Metal merupakan pertanda dari lahirnya sebuah individu
musik baru, bernama Death Metal.
Perkembangan musik Death Metal di
Indonesia mengalami perkembangan yang sangat baik. Diantaranya terusulkannya
suatu forum pusat dari pecinta Death Metal Indonesia, yang bernama forum Death
Metal Indonesia, yang bernama Indonesian Death Metal atau disingkat IDDM.
Kemudian juga muncul Indogrind.net, staynocase, dan lainnya. Saat ini,
band-band baru Death Metal akan menyuarakan 'suara-suara maut' dalam event
metal. Band-band Death Metal di Indonesia sekarang antara lain Death
Sound, Parkinson,Jevuska, Asphyxiate, Bleeding
Corpse, Death Vomit,
Internal
Darkness, Destruction, Kill
Harmonic, Grind
Buto, Sacrament, Infected
Voice, Brain
Ass, Hatestroke, Sickmath dan sebagainya.
Perkembangan Death Metal Indonesia
setelah terciptanya IDDM, merupakan sebagai indikasi dan peresmian
komunitas-komunitas Death Metal di seluruh wilayah Indonesia untuk go on
public atau menunjukkan diri mereka masing-masing pada publik. Seperti pada
saat ini, banyak sekali kelompok komunitas Death Metal Indonesia di wilayah
mereka masing-masing yang sudah menunjukkan diri mereka di Internet.
Komunitas-komunitas tersebut masih merupakan bagian dari Indonesian Death
Metal/IDDM. IDDM merupakan salah satu web penghubung yang menjadi tempat
bertukar pikiran maupun aspirasi hingga media untuk iklan / promosi album
maupun merchandise. Komunitas-komunitas tersebut diantaranya adalah
Surabaya Death Metal ,Malang Death Metal Force, Bandung Death Metal, Bekasi
HORDE! Death Metal, Jogjakarta Corpse Grinder,Surakarta Death Metal, West
Borneo Death Metal, Magelang Death Metal Militia, Sukoharjo Death Metal,
Semarang Death Metal, Bali Death Metal sampai Samarinda Death Metal dan masih
banyak lagi komunitas di seluruh Indonesia.
Beberapa subgenre death metal:
- Technical death metal - Death Metal yang dikembangkan dengan nada-nada diatonis, merupakan perkembangan dari musik Death Metal ke yang lebih kompleks. Seringkali diasosiasikan sebagai penggabungan antara death metal dengan progressive rock dan jazz fusion.
- Melodic death metal - heavy metal dicampur dengan beberapa unsur Death Metal, misalnya death growl dan blastbeat
- Progressive death metal - gabungan antara death metal dan progressive metal
- Brutal death metal - Brutal Death Metal merupakan perkembangan dari Death Metal itu sendiri. Brutal Death Metal merupakan salah satu perkembangan yang berhasil menghasilkan perkembangan lagi di genre Death Metal. Brutal Death Metal menghasilkan Slamming-Gore Brutal Death Metal, Slamming-Groove Technical Brutal Death Metal, Slamming Goregrind, seperti PALASIK dari bukittinggi.
- Deathcore - gabungan antara metalcore/groove metal dengan death metal, merupakan genre Death Metal yang lebih menjurus kepada musik Post Hardcore.
- Death/Doom - gabungan antara doom metal dan death metal
- Blackened death metal - Blackened Death Metal merupakan usul-usul yang dilakukan oleh band-band Death Metal yang ingin menggabungkan kembali unsur Black Metal pada Death Metal seperti yang terjadi pada Era Pertama Death Metal, di mana Death Metal masih tercium bau-bau Black Metal.
Dangdut
Dangdut merupakan salah satu dari genre seni musik yang berkembang di Indonesia. Bentuk musik ini berakar dari musik Melayu pada tahun 1940-an. Dalam evolusi menuju bentuk kontemporer sekarang masuk pengaruh unsur-unsur musik India (terutama dari penggunaan tabla) dan Arab (pada cengkok dan harmonisasi). Perubahan arus politik Indonesia di akhir tahun 1960-an membuka masuknya pengaruh musik barat yang kuat dengan masuknya penggunaan gitar listrik dan juga bentuk pemasarannya. Sejak tahun 1970-an dangdut boleh dikatakan telah matang dalam bentuknya yang kontemporer. Sebagai musik populer, dangdut sangat terbuka terhadap pengaruh bentuk musik lain, mulai dari keroncong, langgam, degung, gambus, rock, pop, bahkan house music.[1]
Penyebutan nama "dangdut" merupakan onomatope dari suara permainan tabla (dalam dunia dangdut disebut gendang saja) yang khas dan didominasi oleh bunyi dang dan ndut. Nama ini sebetulnya adalah sebutan sinis dalam sebuah artikel majalah awal 1970-an bagi bentuk musik melayu yang sangat populer di kalangan masyarakat kelas pekerja saat itu.
Keroncong
Keroncong merupakan nama dari instrumen musik sejenis ukulele dan juga sebagai nama dari jenis musik khas Indonesia yang menggunakan instrumen musik keroncong, flute, dan seorang penyanyi wanita.Asal-usul
Akar keroncong berasal dari sejenis musik Portugis yang dikenal sebagai fado yang diperkenalkan oleh para pelaut dan budak kapal niaga bangsa itu sejak abad ke-16 ke Nusantara. Dari daratan India (Goa) masuklah musik ini pertama kali di Malaka dan kemudian dimainkan oleh para budak dari Maluku. Melemahnya pengaruh Portugis pada abad ke-17 di Nusantara tidak dengan serta-merta berarti hilang pula musik ini. Bentuk awal musik ini disebut moresco (sebuah tarian asal Spanyol, seperti polka agak lamban ritmenya), di mana salah satu lagu oleh Kusbini disusun kembali kini dikenal dengan nama Kr. Muritsku, yang diiringi oleh alat musik dawai. Musik keroncong yang berasal dari Tugu disebut keroncong Tugu. Dalam perkembangannya, masuk sejumlah unsur tradisional Nusantara, seperti penggunaan seruling serta beberapa komponen gamelan. Pada sekitar abad ke-19 bentuk musik campuran ini sudah populer di banyak tempat di Nusantara, bahkan hingga ke Semenanjung Malaya. Masa keemasan ini berlanjut hingga sekitar tahun 1960-an, dan kemudian meredup akibat masuknya gelombang musik populer (musik rock yang berkembang sejak 1950, dan berjayanya musik Beatle dan sejenisnya sejak tahun 1961 hingga sekarang). Meskipun demikian, musik keroncong masih tetap dimainkan dan dinikmati oleh berbagai lapisan masyarakat di Indonesia dan Malaysia hingga sekarang.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar